Refleksi Modul 1.1 Menggunakan Konsep Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)Saya ingin memulai refleksi saya ini dengan menceritakan awal bergabung dengan program guru penggerak.Awal januari saya mendapatkan pemberitahuan dari dinas pendidikan bahwa program Guru penggerak akan dibuka di Bolaang Mongondow Selatan untuk Angkatan 7, Betapa sedihnya saya karena tidak memenuhi syarat untuk mendaftar , ditambah lagi dengan program Profesi guru , saya terbentur aturan lima tahun.
Pengalaman mengajar di dapodik, Sehingga saya mencari cari agar bisa bergabung di kedua program tersebut. Pada Dapodik terdata pengabdian saya tertanggal 01 maret 2019 , padahal saya memiliki pengabdian kemenag mulai 2013 , hanya saja tidak terbaca karena lintas kementerian, oleh karena itu saya berkonsultasi dengan berbagai pihak agar TMT penugasan saya dapat diakui . Seiring berjalan turunlah surat dari kementerian untuk mengupdate data riwayat karir, sehingga saya mengubah TMT sesuai yang sebenarnya.Betapa gembiranya saya ketika riwayat mengajar saya dari kemenag dapat diakui sehingga saya dapat mendaftar program profesi Guru (PPG dan Program Guru Penggerak, Walaupun konsekuensinya hanya bisa dipilih salah satu, tapi bagi saya memilih itu ketika sudah berada ditangan , sebelum ada ditangan maka semua peluang perlu saya coba. Pada bulan juni saya dinyatakan Lulus kedua program tersebut PPG dan PPG , dan PPG dimulai bulan Agustus sampai dengan oktober , jadi hanya selisih 3 hari setelah program profesi Guru Selesai saya kemudian lanjut Program Guru penggerak pada bulan oktober di hotel Swiss Bell Manado yang dibuka secara virtual oleh bapak Nadiem Makarim (Kemdikbud Ristek ) dan diselenggarakan secara luring oleh Balai Guru Penggerak.
Setelah beberapa minggu berada dalam program guru penggerak perasaan saya bercampur aduk, mulai dari rasa bosan karena saya berpikir saya seharusnya saya recovery terlebih dahulu pasca kegiatan PPG. disisi lain saya juga bersemangat dan optimis karena berada disekeliling orang orang hebat , seperti rekan rekan Calon guru penggerak, dan saya selalu termotivasi oleh Fasilitator dan pengajar praktik. Kemudian ditambah lagi dengan materi yang menarik tentang filosofi Ki hajar dewantara yang memberikan saya gambaran umum tentang murid, bagaimana seharusnya murid diperlakukan ,kodrat apa yang harus dipenuhi membuat semakin tertarik memahami materi ini.
Kemudian banyak hal yang saya peroleh dalam modul 1. 1 ini , saya mulai mengerti jalan pikiran bapak pendidikan kita KI hajar Dewantara seperti apa ia melihat murid , dari sudut pandang apa beliau memahami murid seperti semboyan yang paling populer dari ki Hajar dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo berarti jika didepan harus menjadi contoh dan teladan bagi siswa , ing madya mangun karso berarti jika ditengah menjadi penyemangat dan tut wuri handayani , di belakang memberikan dorongan kepada murid. Di modul ini saya belajar bahwa murid adalah manusia istimewa dengan karakteristik beragam . Disini saya belajar bahwa murid itu lahir sebagai kertas dengan tulisan yang samar-samar, guru hanya perlu menuntun murid untuk menebalkan lakunya.Kemudian dalam hal pengajaran guru harus memperhatikan kodrat keadaan murid yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan apa yang dialami langsung murid berkaitan dengan budaya dan lingkungan tempat tinggalnya, kemudian Kodrat zaman mengarah pada perubahan waktu dan hidup tinggal di zaman sekarang dengan menyesuaikan perkembangan teknologi. Selain itu saya juga belajar tentang penanaman karakter /budi pekerti bagi murid , seperti yang dikatakan KI Hajar dewantara budi pekerti itu adalah perpaduan Cipta, Rasa dan Karsa.
Kemudian setelah memahami filosofi ki Hajar dewantara tentang murid , kedepan saya akan menjadi guru yang diimpikan oleh murid, saya ingin dikenang oleh mereka sebagai guru yang baik, memahami mereka dari segi kebutuhan dan kodratnya, memberikan pembelajaran yang menyenangkan dengan menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman . Pembelajaran Kontekstual mendekatkan murid dengan alam dan lingkungan mereka sehingga mereka dapat belajar sesuai kodrat alam demi mencapai kebahagian murid dalam belajar selain itu pembelajaran berbasis TIK juga perlu dilakukan untuk memenuhi kodrat zaman. Zaman sekarang sudah jauh berbeda dengan dulu maka pembelajaran juga harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Cara-cara Lama yang cenderung memaksa dan tidak memberikan pilihan murid harus saya tinggalkan. Saya percaya dengan pendekatan ini bukan hanya membentuk pengetahuan yang dalam akan tetapi mampu membentuk karakter /budi pekerti murid