Modal besar sebagai guru penggerak adalah semangat untuk belajar, kemauan dan keinginan yang kuat untuk terus mempelajari hal yang baru. Termasuk memahami tentang budaya positif di sekolah yang perlu dikembangkan sesuai dengan nilia-nilai yang sudah menjadi keyakinan / kekuatan di sekolah. Budaya berarti pembiasaan yang dilakukan secara terusmenerus dan berkelanjutan. dengan begitu Kekuatan budaya positif dapat membangun karakter yang sesuai dengan karakter profil pelajar pancasila.di samping itu budaya postif dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi murid dan berkembang seusai kodrat alam dan zaman. Untuk membentuk budaya positif di sekolah diperlukan lingkungan positif yang mendukung tumbuh kembang anak .
Sesuai pemikiran kihajar dewantara bahwa guru ibarat petani, kita hanya dapat menjaga kesuburantanah , memelihara dan rajin merawat , sehingga yang kita siapkan hanyamenciptakan yang baik tumbuhnya padi. Maka dari itu pemikiran kihajar dewantaradapat kita tarik sebagai acuan dalam menuntun murid mencapai potensinya, kita tidak dapat terlalu jauh masuk menginterversi pribadi murid, yang bisadilakukan adalah memastikan lingkungan yang positif bagi murid.Lingkunganpositif dapat membuat murid merasa nyaman belajar dan beriterkasi dan bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga memudahkan kita menerapkan nilai nilai guru penggerak yaitu berpihak pada murid .
Lingkungan positif dapat menumbuhkanekosistem belajar yang nyaman bagi murid, sehingga murid lebih betah di sekolah dan menganggap sekolah adalah rumah kedua baginya.Selain itu lingkungan sekolah yang positif mendatangkan kerinduan murid akan guru dan suasana belajarnya.Adapaun stategi yang bisa dilakukan untuk menciptakan lingkungan positif adalah dengan menerapkan dsiplin positif seperti Budaya Positif di sekolah dapat dimulai oleh guru dengan membuat keyakinan kelas, mengapa bukan kesepakatan kelas ? karena keyakinan memunculkan motivasi dari dalam diri yang membuat muird memiliki kebutuhan akan keyakinan dimilki, berbedea hal nya kesepakatn kelas masih ada unsur aturan hukuman sehingga menghillangkan esensi dari konsekuensi. Keyakinan kelas dapat disusun dengan atas nilai nilai kebajikan universal yang beralaku secara umum baik dalam organisasi dan terkhusus di Indonesia yaitu profil pelajar pancasila (beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa , berkebhinekaan global, bernalar kritis , mandiri, bergotong royong dan kreatif.
Nillai seorang guru penggerak yang kolaboratif dapat membantu sekolah dalam menyusun visi misi sekolah secara bekelaborasi berbagai pihak terutama warga sekolah di samping itu dengan nilai reflektif yang dimiliki guru penggerak selalu melihat dan merefleksikan serta intropeksi diri dan lingkungan yang dapat menjadi acuan perbaikan dalam menyusun visi misi sekolah yang berpihak pada murid. Selanjutnya perang guru penggerak mampu menggerkkan komunitas belajar di sekolah untuk secara bersama -sama menerapkan budaya positif dengan menerapakan disiplin positif .selain itu perang guru penggerak mampu mewujudkan kepemimpian peserta didik sehingga mampu memunculkan motivasi belajar murid dan karakter yang lebih baik.
Nilai dan perang guru penggerak menjadi modal bagi penggerka untuk menerapkan keyakinan kelas seperti saling menghargai , saling menghormati dan disiplin waktu. selain itu guru penggerak dapat menerapkan berbagai posisi kontrol , untuk mengubah indentitas murid dari gagal ke indentitas sukses, diantranya kontrol penghukum,pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. melihat posisi kontrol ini maka guru penggerak perlu berubah dari posisi situmul- respons ke posisi kontrol manajer. Kontrol manajer dilakukan oleh guru dengan fokus pada solusi atas yang dihadapi oleh murid .semua ini dimungkinkan jika posisi kontrol Manajer dapat dipadukan dengan strategi segitiga restitusi dengan membuat murid menemukan sendiri keyakinan kelas dan menyadari sendiri kesalahan yang dilakukan dan menemukan solusi secara mandiri atas permasalahan yang dimiliki dan dapat kembali ke kelomponya.
strategi segitiga restitusi dapat dilakukan dengan menerpakan 3 langkah.Pertama menstabilkan identitas murid dengan memberi penguatan bahwa apa yang dilakukan pasti ada penyebabnya sesuai dengan teori kebutuhan manusia , dan setiap orang pasti memiliki kesalahan. Selanjutnya menvalidasi tindakan salah dengan menyakan alasan melakukan itu dan mengarahkan murid menemukan cara yang lebih baik . Terakhir menunutun siswa dalam memperkuat keyakinan kelas yang telah dibuat sebelumnya, sehingga murid berpegang teguh pada keyakinan kelas.
Hingga akhirnya dengan Nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki dapat lebih memahami murid secara kodrat keadaan (alam dan Zaman ) sesuai pemikiran kihajar dewantara , hingga dalam penerapanya dapat diwujudakan dalam visi misi sekolah sehingga tercipta lingkungan yang positif dengan nilai nilai kebajikan universal dan profil pelajar pancasila. Budaya positif di sekolah dapat diwujudkan melalui disiplin positif berdasar atas keyakinan kelas dengan guru penggerak menerapakan kontorl manajer dan menerpkan strategi restitusi untuk menuntun murid kembali kepada kelompoknya.
Refleksi Modul 1.4 Disiplin Positif
Sejak mengikuti Program guru penggerak ada banyak hal baru saya peroleh dan bahkan saya tidak pernah menemukan di pelatihan ataupun bimtek yang biasa saya ikuti . Awalnya pemikiran tentang kihajar dewantara terlihat biasa saja akan tetapi dengan berjalannya waktu ketika bagian demi bagian modul mulai terbuka untuk dipelajari saya menyadari bahwa materi ini bukan sesuatu yang biasa.Ada banyak konsep -konsep pemikiran baru yang selaras dan sesuai dengan konsep pemikiran kihjar dewantara dalam menumbuh kembangkan sikap dan perilaku anak . Modul 1.4 tentang budaya positif kali ini membuat saya mendapat tamparan keras sehingga saya merasa sedih dan bersalah sekaligus bahagia bercampur menjadi satu rasa.
Keresahan saya selama ini terhadap apa yang saya lakukan untuk peserta didik membuat saya merasa telah berdosa kepada murid saya karena mematikan karakter mereka dengan cara cara /metode yang kurang tepat. di sisi lain saya merasa senang dan bahagia karena dengan mempelajari modul ini saya cepat mengetahui berbagai kesalahan yang saya lakukan selama ini, dan tidak terlmbat untuk memperbaikinya. Dalam mempelajari modul ini saya diperhadpakan dengan sebuah kata yang unik yaitu disiplin positif.Makna disiplin positif ini adalah melakukan pendekatan yang berbeda dalam mengajarkan murid tentang disiplin hingga mengubah perilakunya , yang sangat jauh bergeser dari apa yang saya tentang disiplin . Sebelumnya kata disiplin selalu dimaknai erat kaitannya dengan hukuman dan penghargaan .
Awalnya saya merasa bingung bagaimana mungkin penengakan disiplin tanpa menggunakan hukuman dan penghargaan , apakah bisa murid menjadi dispilin tanpa adanya reward dan punishment. Dengan mempelajari modul ini saya melihat suatu perilaku didasari karena motivasi tertentu misalnya ingin menghidari hukuman , ingin mendapatkan penghargaan dan yang paling menarik adalah perilaku yang didasari motivasi pada nilai-nilai yang diyakininya dan perlubahan perilaku terjadi karena adanya kebutuhan dasar manusia seperti bertahan hidup atau survival , cinta dan kasi sayang ,kebebasan ,kesenagan dan kekuasaan .Oleh karena untuk menumbuhkan budaya positif maka diperlukan keyakinan keyakinan dan nilai nilai kebajikan universal yang berlaku secara umum. Profil pelajar Pancasila salah satunya acuan karkter yang diharapkan dalam kurikulum merdeka , dan memahami 5 dasar kebutuhan manusia.
Setelah mempelajari nilai nilai dan keyakian yang dijadikan dasar maka dalam modul ini kita diperhadapkan dengan berbagai posisi control seperti control penghukum , pembuat rasa bersalah , control teman hingga control manajer. Selain itu guru penggerak harus mulai bergeser dari teori stimulus respons ke teori control hingga penarapan segitiga restitusi pada control manajer untuk menuntun murid dalam menyelesaikan permasalahan dirinya , orang lain ataupun kelompoknya . Sehingga diharapkan dengan kombinasi control manajer dan segitiga restitusi dapat membuat murid dapat kembali ke kelompoknya dengan karakater yang lebih kuat. Materi ini sangat menarik karena tidak melibatkan peraturan (hukuman dalam Menerpakan dalam disiplin positif tetapi lebih mengarah kepada keyakinan kelas
Oleh karena itu setelah saya mempelajari modul ini saya mulai berbenah melakukan refleksi diri terhadap apa yang selama ini saya lakukan dalam melakukan tugas poko sebagai guru ,mindset atau cara berpikir sudah mulai berubah secara perlahan , mulai mengeliminasi satu per satu konsep lama tentang penerapan disiplin di sekolah. Kedepan tentu dalam kehidupan sehari – hari baik di kelas maupun di sekolah saya ingin mencoba menerapkan posisi control manajer ketiga menghadapi murid. Walaupun ini tidaklah mudah mengubah cara pikir yang lama tetapi kalau tidak mulai dari sekarang kapan lagi saya akan berubah. Saya juga percaya bahwa apa yang telah dilakukan selama ini dalam menerapkan disiplin murid dengan menggunakan hukuman adalah ilusi semata , ketika guru menghukum siswa karena melakukan kesalahan dua hal yang menjadi kemungkinan terjadi , yang pertama murid akan patuh atau makin mengulangi kesalahnnya. Ilusi tentang murid patuh bisa jadi karena hanya di bayangi perasaan takut dan khawatir untuk mendapatkan hukuman sehingga motivasinya hanya berasal dari luar (ekstrinsik) dan itu dapat terulang ketika murid hanya patuh pada guru yang memberi hukuman. .Kedua begitupun dengan murid yang makin mengulangi kesalahannya terusmenerus walaupun diberi hukuman karena baginya identitasnya sudah telanjur gagal, dan hukuman merupakan hal biasa baginya.
Sebelum saya memahami modul ini beberapa tahun terakhir saya melakukan beberpa pendekatan dalam mengontrol perilaku murid. Saya teringat salah satu murid yang lulus tahun 2019 , murid tersebut cukup mengganggu dalam proses pembelajaran , ketika saya mengajar dia selalu membuat masalah dalam kelas sehingga beberapa metode saya gunakan, saya pernah mencoba mendekati murid tersebut sebagai teman , walaupun ada perubahan tetapi saya melihat anak ini mulai tidak hormat kepada saya bahkan beberapa kali dia membuat keributan dengan guru lain karena merasa ada yang bisa membelanya. Sehingga guru tersebut melapor langsung kepada saya . sayapun kemudian mulai memikirkan metode terbaru yang bisa saya terapkan , oleh karena itu saya mulai menarik diri dalam hal kedekatan dengan murid tersebut. Saya kemudian mulai menjauh, efeknya adalah perilaku anak tersebut kembali ke awal , sehingga mulai membuat keributan pada saat mengajar.
Pendekatan kedua yang saya lakukan adalah berkosultasi dengan kakak dari muris tersebut sehingga saya paham betul bahwa dia sangat takut pada kakak tertuanya, sehingga peluang ini saya ambil untuk memberikan stimulus akan mengadukan ke kakanya jika masih berbuat keributan di kelas. respons yang terjadi pada saat itu murid tersebut mulai menampakkan perilaku yang tenang, suka berdiam diri dan itu terjadi pada setiap guru yang mengajar. Akan tetapi justru itu yang membuat saya sedih karena saya merasa telah mematikan karakter / mengambil keceriaan anak tersebut di sekolah. Jika saya hubungkan pada teori motivasi dan kebutuhan anak maka saya seharusnya melakukan identifikasi awal mengenai kebutuhan anak tersebut sebelum mengambil tindakan . dengan mengetahui motivasi dan kebutuhan anak tersebut mungkin saya bisa membuatnya tetap baik dalam kelas tanpa harus mengambil keceriaan murid saya. Dari kejaidan ini jika saya kaitkan dengan segitiga restitusi maka saya belum menjalankan sepenuhnya pada saat itu, ada hal yang tidak dilakukan seperti membuat keyakinan kelas hingga kurang dalam validasi tindakan yang salah.
Disis lain , terdapat kasus yang sama saya temui ketika sudah menjadi guru penggerak , murid tersbeut karakternya hamper sama dengan murid yang lulusan tahun 2019. Berkat mempelajari modul calon guru penggerak dan setelah mengikuti program profesi guru saya kemudian melakukan pendekatan yang berbeda ke murid tersebut , salah satu hal yang kemudian saya lakukan adalah melihat bakat dan minat , sehingga saya punya acuan untuk masuk menjadi teman . Murid saya ini sangat suka bermain tiktok maka dari itu pembahasan yang selalu saya bahas ketika waktu senggang adalah berbicara hal-hal tentang Tiktok. Sehingga efeknya murid tersebut menjadi dekat dengan saya dan patuh dalam kelas , apa saja yang kemudian saya minta pasti dituruti dan tidak membuat keributan lagi dalam kelas. Pendekatan ini saya peroleh ketika mengikuti program profesi guru bulan juli hingga oktober tahun 2022 . Pendekatan tersebut intinya mendekati anak sesuai minat dan bakatnya. Setelah melihat capaian tersebut saya berbagi praktik baik kepada sesame guru di sekolah tentang Teknik tersebut dan diterpakan oleh beberpa guru dan ternyata berhasil.
Terakhir saya sangat bersyukur dan bahagia karena dapat mengikuti program guru penggerak walaupun saya hanya istirahat selama 3 hari pasca menyelesaikan program profesi guru (PPG) di bulan Oktober. Sehingga saya optimis bahwa ilmu pedagogic dalam pembelajaran akan melengkapi konsep baru dalam memahami murid dalam modul guru penggerak (PGP). Harapan saya ilmu yang saya peroleh dari kedua program ini dapat lebih meningkatkan profesionalisme saya sebagai guru untuk mencapai tujuan Pendidikan yaitu untuk murid, murid dan Murid
Berikut Rencana Aksi Nyata